Salam bahagia wahai pembaca πŸ˜€

Sekarang lagi ramai – ramainya media elektronik ngeliput Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta. Kalau pembaca yang pada tinggal dirumah pasti pada tau nih, soalnya pasti tiap hari nonton berita di tv. Kalau sebagian anak kost mungkin pada gak tau beritanya, soalnya sebagian anak kost memang gak punya tv, sebagian lagi sibuk dengan jadwal padet mereka sebagai mahasiswa, apalagi kalau bukan pacaran (tidak berlaku bagi mahasiswa bertampang pas – pasan dengan saldo rekening yang pas – pasan juga) hahahaha πŸ˜€

Pilkada atau dalam bahasa kerennya sering disebut “pesta demokrasi” adalah kegiatan rutin yang di adakan lima tahun sekali dengan tujuan untuk memilih pemimpin suatu daerah langsung oleh warga masyarakat yang telah terdaftar dalam pemilih tetap pilkada. Namun, lagi – lagi yang namanya Pilkada sering ditemukan ketidakberesan dalam pelaksanaannya. Berbagai masalah sering muncul dalam pelaksanaan Pilkada, antara lain sbb :Β 

1. Ketidaksiapan kertas pemilihan. Kertas pemilihan suara merupakan hal vital yang harus disiapkan. Setiap pemilih wajib memilih dengan cara men-coblos gambar calon pemimpin yang mereka pilih. Setiap pemilih harus menggunakan kertas baru dalam melakukan pemilihan, hal tersebut merupakan syarat agar pemilihan bisa dikatakan valid (sah). Bayangkan kalau sudah tiba saat hari H pilkada, bilik pemungutan suara sudah siap, pemilih tetap sudah pada antre buat melakukan coblosan, tiba – tiba ada kabar kertas pemilihan belum siap atau kertasnya kurang. Masak iya pemilih harus pakai kertas second (satu lembar kertas pemilihan dipakai beberapa pemilih) kan gak etis. Lagian juga melanggar salah satu syarat pemilihan, dan berarti pemilihan tersebut tidak sah. Saran buat pemerintah nih ye, cermat dan teliti memilih pihak yang akan bertanggung jawab mencetak dan mendistribusikan kertas suara, sebab kertas suara sifatnya vital, wajib ada dan tidak boleh telat pendistribusiannya ke pelosok – pelosok desa. Kebiasaan sih pemerintah cuman milih perusahaan yang berani kasih harga murah, ya ntar budget lebihnya bisa dibagi – bagi sama kolega #ehhh .

2. Ghost voter (pemilih siluman). Aneh kan denger istilah pemiilih siluman? Ini pilkada yang milihkan warga masyarakat. Masak ada pemilih siluman? berarti warga di daerah itu bukan manusia dong? ngeriii #horor πŸ˜€ . Jadi gini, penjelasan singkat mengenai pemilih siluman atau dalam bahasa jawanya “ghost voter” adalah pemilih yang tidak ada wujudnya. Jadi data nama, alamat dan nomor induk pemilihnya sudah terdaftar, tapi orang yang dimaksud tidak ada wujudnya, nah itu orang apa siluman?. Tujuan dari adanya pemilih siluman ini untuk menambah jumlah pemilih sebagian calon pemimpin supaya mendapat pemilih yang banyak, ya lagi – lagi tujuannya supaya dapet kursi. Kalau di Indonesia gak usah merasa aneh sama hal – hal yang melenceng dari aturan. Kalau di negara ini aturan dibuat untuk dilanggar, kan? (silahkan kembali pada hati nurani kawan).

3. Serangan Fajar. Aneh – aneh banget istilahnya, yang tadi pemilih siluman, nah yang ini serangan fajar. Ini mau pilkada apa mau perang sih? sebenernya pilkada juga perang sih, perang melawan ego untuk menerima suap apa gak. hahaha… Serangan fajar itu maksudnya serangan yang dilakukan oleh oknum – oknum sebagian incumbent untuk membagi – bagi sedikit dari materi mereka kepada warga (dermawan banget ya para calon pemimpin ini). Tapi ingat, memberi materi dengan tujuan utama yaitu supaya warga pada nyoblos gambar mereka pas pemilihan ntar (gak jadi dermawan deh) :LOL . Kalau kayak gitu, gimana negara kita ini mau jadi negara yang jujur, negara yang bersih dari korupsi? (bingungkan?). Serangan fajar jelas bertentangan dengan motto dari pilkada itu sendiri. Pada tau gak motto pilkada apaan? nih, moto pilkada “wujudkan pilkada berhati nurani”, itu sebelum serangan fajar. Kalau udah kena serangan fajar motonya berubah “wujudkan pilkada yang bermata duitan” :peace πŸ˜€

Nah, itu tadi beberapa ketidakberesan yang masih sering terjadi dalam pelaksanaan pilkada dan pemilu di negara kita yang katanya negara demokrasi ini. Selain masalah – masalah di atas, kita pasti sudah sangat sering dengar janji manis para kandidat pemimpin kita. “Saya berjanji, apabila saya terpilih menjadi pemimpin, maka saya akan mencari uang sebanyak – banyaknya dalam waktu yang secepat – cepatnya untuk mengembalikan modal kampanye saya” (itu kalau wakil rakyat yang jujur) πŸ˜€ .

Entah bagaimana cara kita menyikapi janji manis calon pemimpin daerah ini. Sama halnya kalau kita punya pacar, tapi dia tukang bo’ong. Mau percaya tapi takut dikecewain lagi. Mau gak percaya tapi masih sayang. Nah loh ada yang kena kan? #galau πŸ˜€ . Kata orang dulu tuh kalau ragu – ragu mending gak usah dilakuin. berdasarkan pepatah itu mangkanya banyak orang yang golput (golongan putih alias kagak nyoblos). Itu sih sah – sah aja tergantung mereka, itu hak mereka buat milih apa gak.

Seaneh apapun pilkada tahun ini, semoga dari pilkada ini bisa mendapatkan pemimpin yang bener- bener bisa membuktikan janji – janjinya, jangan cuman mikirin kepentingan partai pak, pikirin nasib orang yang milih bapak dengan harapan yang tinggi. Jangan nyakitin hati rakyat terus – terusan. Orang kecil juga punya harga diri pak.

Nama gue Wahyu. Merdeka !!!

Ditulis dengan perasaan jengkel dan sedikit sakit hati πŸ˜€

Advertisements